Daily Report | 18 Jan 2022
Surplus neraca perdagangan yang menipis pada Desember 2021, serta potensi gelombang ke-3 dari Covid-19; menjadi beberapa sentimen yang menyelimuti bursa saham.
Surplus neraca perdagangan yang menipis pada Desember 2021, serta potensi gelombang ke-3 dari Covid-19; menjadi beberapa sentimen yang menyelimuti bursa saham.
Investor kembali khawatir dengan adanya potensi pengetatan kebijakan moneter, meski hal ini sebelumnya sempat ditenangkan oleh Ketua the Fed, Jerome Powell.
Pergerakan IHSG ini berpotensi untuk dipengaruhi beberapa rilis data ekonomi dari domestik dan global.
Indeks acuan berpeluang untuk melanjutkan penguatan dengan proyeksi rentang pergerakan di area 6.650 – 6.750.
Yield UST10Y mengalami kenaikan, sebelum akhirnya ditutup di level 1,70% berdasarkan data Bloomberg. Pergerakan yield ini, terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) kemarin.
Menjelang akhir pekan, pergerakan indeks acuan diperkirakan masih akan terkonsolidasi pada rentang 6.600 – 6.700.
Harga Surat Utang Negara (SUN) benchmark FR0090, FR0091, dan FR0093 ditutup at discount.
Pergerakan bursa acuan diproyeksikan masih akan berkisar pada rentang 6.600-6.700.
Hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk perdana tahun 2022 kemarin, berhasil mencatatkan penawaran masuk IDR 55,3 triliun.