ASII – Katalis Positif Berlanjut
Berlanjutnya insentif PPnBM DTP serta tingginya harga komoditas diharapkan akan terus mendukung kinerja ASII pada 2022.
Berlanjutnya insentif PPnBM DTP serta tingginya harga komoditas diharapkan akan terus mendukung kinerja ASII pada 2022.
WIKA membukukan pertumbuhan kinerja yang signifikan secara kuartalan, ditandai dengan kenaikan pada pendapatan (+71,7% QoQ) dan laba bersih (+305,7% QoQ).
Meskipun SMGR mencatat pertumbuhan yang tinggi di 3Q21, kinerja YTD sedikit lebih rendah dari tahun lalu. Industri semen menghadapi harga batu bara yang tinggi; menjadi tantangan berat bagi profitabilitas perusahaan. Ke depannya, SMGR akan bergantung pada kemungkinan perpanjangan insentif pemerintah seperti: pembatasan harga batu bara, dan skema PPN ditanggung pemerintah.
Performa yang lemah disebabkan segmen broiler yang mengalami kerugian besar, menahan pendapatan segmen lain. Harga jagung yang tinggi akan terus menjadi tantangan bagi CPIN di kuartal yang akan datang.
Selama periode 9M21, ASII mencatatkan total pendapatan sebesar IDR167,4 triliun (naik 28% yoy); dengan laba bersih yang naik 6,7% yoy menjadi IDR21,0 triliun. Sektor otomotif memimpin pemulihan kinerja, didukung pertumbuhan penjualan mobil dan pangsa pasar. ASII juga terus merangkul new economy dengan berinvestasi pada startup berkualitas tinggi, yang dapat menjadi katalis positif bagi kinerja di masa depan.
BBNI mencetak pemulihan kinerja yang solid pada 1H21, dengan kenaikan top-line baik pendapatan bunga maupun non-bunga. Hal ini berdampak pada pertumbuhan Pre-provision Operating Profit (PPOP) menjadi sebesar Rp 16,1 Triliun (naik 24,4% yoy). Tingkat NPL gross juga mengalami perbaikan secara kuartalan, meski masih terhitung cukup tinggi di level 3,9%; mengakibatkan kenaikan beban provisi yang signifikan.
Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 12,5 triliun pada 1H21, atau naik 21,5% secara yoy.
BBCA membukukan pertumbuhan kinerja yang solid pada 1H21, ditandai dengan kenaikan laba bersih sebesar 18,1% yoy menjadi IDR 14,4 triliun. PPOP berhasil tumbuh 13,4%; sementara beban provisi relatif terjaga dengan kenaikan hanya 0,4% yoy. Namun, memburuknya kualitas aset serta Net Interest Margin (NIM) yang melanjutkan trend penurunan, masih akan menjadi tantangan di sisa tahun 2021.
MIKA melanjutkan trend pemulihan v-shaped dengan Pendapatan 1Q21 sebesar IDR 1.204 Bn (naik 37,6% yoy) dan laba bersih sebesar IDR 374 Bn (naik 69,6% yoy). Peningkatan kapasitas dan jumlah pasien kasus Covid-19 mendukung kinerja MIKA setelah mencapai titik terendah di 2Q20. Dengan pandemi diharapkan lebih terkendali, pembukaan rumah sakit baru melalui pembangunan dan akuisisi diperkirakan akan menjaga pertumbuhan yang sehat.