Weekly Report | Belajar Daring dan WFH Peluang bagi Industri Telekomunikasi

Pandemi Covid-19 semakin mewabah dan memakan banyak korban di berbagai belahan dunia. Pasar saham akan kembali cerah setelah senat AS menyepakati RUU penyelamatan senilai USD 2 triliun untuk memerangi pandemi. Kami merekomendasikan TLKM di tengah kebijakan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran pandemi dengan sistem belajar dan kerja dari rumah (Work From Home ‘WFH’). Kami menilai kebijakan belajar dan kerja berbasis daring akan meningkatkan permintaan data trafik.

Daily Report | Stimulus Ekonomi Menggerakan Pasar Saham

Dow Jones melemah 4,06% ke level 21.636. Ketakutan investor atas eskalasi kasus infeksi COVID-19 di AS melemahkan the Dow. Di sisi domestik, volatilitas mengancam pasar saham dan berkurangnya volatilitas sangat tergantung pada kebijakan dan langkah pemerintah memberangus COVID-19.

Daily Report | Langkah G20 Menjaga Pertumbuhan Ekonomi

Dow Jones menguat 6,38% ke level 22.552, ditopang paket stimulus fiksal senilai USD2 triliun. Sementara, Presiden Jokowi menghadiri KTT Luar Biasa G20 yang membahas langkah penanganan COVID-19 dan memutuskan injeksi dana USD5 triliun untuk mengurangi potensi resesi.

Daily Report | Waktu Operasional BEI Lebih Singkat

Dow Jones meningkat 11,7 persen ke level 20.704 setelah Senat AS mengesahkan paket stimulus penyelamat ekonomi AS. Di ranah domestik, OJK menganjurkan BEI mempersingkat waktu operasional perdagangan guna melindungi dan merelaksasi pelaku pasar serta pemangku kepentingan dari mewabanya COVID-19.

Daily Report | Pemerintah Berupaya Lindungi Ekonomi

Dow Jones terpuruk 3,04 persen ke level 18.591 pasalnya Senat AS gagal melegalkan RUU stimulus fiskal Covid-19 menjadi UU. Sementara, bantuan pinjaman USD300 juta dari Bank Dunia untuk memperkuat sektor keuangan menjadi sentimen positif domestik.

Weekly Report | BI Bak Makan Buah Simalakama

Keputusan BI untuk melanjutkan pemangkasan BI 7-DRRR sebesar 25 bps ke level 4,50% mengikuti langkah bank sentral negara lain. BI memahami paradoks kebijakan akomodatifnya, yakni di satu sisi menstimulasi momentum pertumbuhan ekonomi tetapi juga memperlemah nilai tukar rupiah. Pemangkasan ini berdampak pada nilai tukar rupiah yang terperosok di level 15.913/USD atau level terburuk sejak Juni 1998. Wabah virus corona 2020 yang memperparah kondisi ekonomi global membuat BI merevisi turun proyeksi pertumbuhan kredit 2020 dari kisaran 10%-12% menjadi 9%-11%. BBRI sebagai bank yang fokus memberikan kredit mikro bagi produsen produk kebutuhan masyarakat terus mencatatkan permintaan pada segmen kredit ini.

Daily Report | Menkeu Menilik Pertumbuhan Ekonomi RI

Dow Jones melemah 4,55% ke level 19.137 pasalnya wabah virus corona mengalahkan kekuatan stimulus yang melindungi ekonomi global. Para pejabat pasar uang, bursa saham, bank bahkan berbagai industri terus berusaha melobi pembuat kebijakan AS untuk tidak menutup pasar. Di sisi domestik, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,5% atau bahkan 0% jika pandemi tidak segera teratasi.

Daily Report | BI Melanjutkan Kebijakan Akomodatif

Dow Jones naik tipis 0,95% ke level 20.087, ditopang berbagai stimulus fiskal dan moneter guna meredakan gejolak pasar. Di sisi domestik, BI memangkas BI 7-DRRR hingga 25 bps menjadi 4,5% yang bertujuan mewujudkan stabilitas pasar keuangan dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah wabah COVID-19.

Daily Report | Mencermati Peluang Pelonggaran BI 7-DRRR

Dow Jones melemah 6,30% ke level 19.898 pasalnya stimulus fiskal dan moneter yang terbukti belum cukup ampuh selamatkan ekonomi dari ancaman resesi meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar. Beralih ke ranah domestik, investor mencermati peluang pelonggaran kebijakan suku bunga BI (7-DRRR) guna memitigasi dampak merusak krisis Covid-19 terhadap ekonomi.