Kembali Menguat Jelang Lelang SUN Terakhir 2020
Yield benchmark FR0081 dan FR0082 yang menuju level psikologis 5% dan 6%, pada perdagangan kemarin
Yield benchmark FR0081 dan FR0082 yang menuju level psikologis 5% dan 6%, pada perdagangan kemarin
Momentum penguatan IHSG terlihat masih terus berlanjut diiringi dengan aksi net buy asing, terutama pada saham-saham telekomunikasi. Dalam jangka pendek, selama IHSG masih mampu bertahan di atas level 5.600, maka akan berluang untuk menuju target berikutnya di 5.860.
Harga SUN benchmark menguat tipis, ditengah beragam respon terkait masa transisi Biden dan pengumuman kabinet.
Dari bursa domestik, investor terlihat mulai melakukan aksi profit taking setelah kenaikan IHSG yang cukup tinggi. Perdagangan bursa kemarin juga diwarnai dengan rekor nilai transaksi harian tertinggi sebesar Rp18,6 triliun. Untuk hari ini, IHSG cenderung akan melanjutkan pelemahan dengan rentang 5.650-5.685.
Tingkat imbalan sukuk bertenor 5-tahun PBS017 hanya sebesar 6,125% atau paling kecil diantara lelang Sukuk kemarin antara 6,50% (PBS027) hingga 7,75% (PBS028).
Kabar baik dari AS menjadi tenaga bagi hampir seluruh bursa saham dunia, termasuk IHSG yang berhasil menembus level 5.700. Namun penguatan IHSG kemarin juga dibarengi dengan terbentuknya gap pada area 5652-5677. Adapun pembelian bersih asing juga terlihat dalam trend menurun dibanding awal November lalu.
Awal pekan, Surat Utang Negara (SUN) benchmark ditutup mixed dengan yield 20-tahun FR0083 dibawah level 7%.
Kenaikan tajam pada IHSG kemarin berhasil mengantar indeks acuan ini ke posisi tertinggi sejak kejatuhan pasar di bulan Maret 2020. Secara teknikal, setelah berhasil menembus level resisten yang cukup kuat, IHSG akan mencoba bertahan di atas 5.600 untuk mengkonfirmasi trend penguatan.
Kamis lalu, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode November 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) sebesar 25 bps menjadi 3,75%.