Daily Report | Pengetatan Aktivitas Membayangi IHSG

Meskipun kemarin ditutup melemah tipis, IHSG masih mampu bertahan diatas level 6.000. Potensi aksi profit taking serta rencana pengetatan aktivitas di zona merah sedikit menjadi sentimen pemberat. Adapun untuk hari ini, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 5.965 – 6.079.

Daily Report | Pasca Menembus Level 6000

IHSG akan mencoba untuk bertahan di atas level 6.000 setelah kemarin berhasil menembus level resisten kuat tersebut. Investor akan mencermati rilis data neraca perdagangan yang akan dirilis hari ini dengan proyeksi surplus sebesar USD2,6 miliar. Hari ini, rentang pergerakan IHSG diperkirakan akan berada di antara 5.959-6.079.

Weekly Report | Rilis Neraca Perdagangan November 2020

Vaksin Covid-19 yang tiba di Indonesia serta kenaikan tarif cukai rokok turut mempengaruhi laju IHSG selama sepekan lalu. Di sisi lain, cadangan devisa tercatat mengalami penurunan tipis. Namun, IHSG masih berhasil ditutup di zona hijau secara mingguan.

Daily Report | IHSG Cenderung Terkonsolidasi

IHSG masih berhasil menguat sebesar 2% pada pekan lalu dengan level 6.000 nampak masih menjadi titik resisten kuat. Pekan ini, investor akan mencermati beberapa agenda ekonomi seperti rilis Neraca Perdagangan November dan hasil RDG Bank Indonesia. Untuk hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak terkonsolidasi pada rentang 5.911-5.980.

Indonesia 2021 Market Outlook

Pada asumsi Makroekonomi 2021, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% – 5,5%. Jika pemulihan ini dapat tercapai, maka Indonesia akan kembali pada jalur pertumbuhan ekonomi jangka panjang nya.  Sementara itu, NHKSI Research memproyeksikan target IHSG 2021 pada level 6,800; yang mengimplikasikan forward P/E sebesar 18,1x. Saham-saham pilihan kami untuk tahun 2021, antara lain: Perbankan (BBNI, BMRI); Barang Konsumsi(MYOR, KLBF); Telekomunikasi (TOWR, TLKM,EXCL); dan Properti (CTRA, PWON).

Konsolidasi pasca Pilkada, di tengah proyeksi ADB

Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah yang berjalan lancar, mendorong pasar obligasi kembali konsolidasi. Perdagangan kemarin juga didukung sentimen eksternal, terpilihnya Janet Yellen sebagai Menteri Keuangan AS, akan membawa kebijakan pro stimulus.